My Parents


Dua insan dengan raut wajah cantik untuk si perempuan dan ganteng untuk si laki-laki sedang duduk serius memperhatikan kamera mobile phone yang siap mengabadikan momen mereka berdua. Pada kesempatan itu, anaknya si bungsu, namanya resti indah sari menjadi photographer. Saya tidak ada disana pada waktu itu, tetapi bisa dibayangkan betapa rempongnya si anak terakhir itu mengatur dan mengarahkan dua manusia tersebut. Kualitas photonya lumayan dengan menggunakan kamera sederhana, kalau tidak salah nokia 3250, yang menjadi milik bersama dikala itu.
Berkat jasa kamera, salah satu generasi pertama dari keluaran nokia, kegantengan dan kecantikan dua manusia sebagai objek photo nampak jelas. Objek-objek lainpun juga kelihatan lumayan terang, dua kursi yang sebagian besar ditutupi dua badan, satu meja yang diatasnya ada taplak meja dan topi serta dinding kayu. Kursi dan meja yang terbuat dari rotan, sungguh mengisahkan momen banyak dan menjadi saksi tumbuh dan besarnya kami. Tempat dimana kami sesama saudara, teman dan keluarga memanfaatkannya sebagai instrumen untuk bermain, bercerita dan bahkan tempat untuk berkelahi. Topi itu juga menjadi salah satu bagian dari perekat dan saksi antara saya dengan si laki-laki diatas, why? karena ketika saya pulang kampung dari Jawa, saya sering menggunakan topi hitam itu menjadi penyelamat kepala dari terik matahari saat berangkat ke kebun. Memakainyapun tanpa permisif...hehehehe. Dinding papan-pun kondisinya masih sama sampai sekarang, yang mana kebanyakan masyarakat Enrekang khususnya di Latiomojong masih bertahan menggunakan rumah panggung, traditional house.
Terlepas dari semua itu, kembali lagi kepada penjelasan dua insan di atas. Dua anak manusia yang memutuskan untuk terikat dalam satu janji suci "pernikahan" sekitar empat dekade lalu. Mereka hidup bersama dan menjalani suka dukanya kehidupan. Berhasil menbesarkan 5 orang yang sekarang sudah besar-besar, 4 sudah menyelesaikan strata satu dan si bungsu masih menjalani masa-masa SMA-nya. Keikhlasan dan semangat membesarkan dan menafkahi baik kebutuhan sekolah maupun lainnya, selalu ada pada dua insan tersebut. Bertani dan mengajar, itulah kesibukan si ayah, sedangkan si ibu menghabiskan waktunya di rumah dan dikebun. Menjadi seorang guru dengan gaji yang pas-pasan tidaklah cukup memenuhi kebutuhan logistik dan pendidikan anak-anaknya yang semuanya mengenyam pendidikan. Maka dari itu, dari dulu dua insan tersebut sadar betul bahwa bertani adalah sumber terbesar untuk menyelesaikan kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anak.
Tidak mengherankan ketika baik si bapak maupun si ibu kebanyakan waktunya dihabiskan di kebun kopi dan cengkeh, dan kadangkala juga menanam tanaman jangka pendek seperti bawang dan tomat ketika masih kuat-kuatnya. Namun apalah daya, mereka semakin menua dan juga sudah lama meninggalkan dunia pertanian, dan lebih fokus pada dunia perkebunan. Selalu teringat perjuangan mereka, yang tidak mengenal capek, si ibu yang setelah menyiapkan makanan dipagi hari...langsung berangkat ke kebun sampai sore dan kembali lagi mengurusi dapur di malam hari. Sedangkan si bapak setelah mengajar, lanjut ke kebun dan malamnya kembali mengurusi urusan sekolah. Artinya, siang malam bukanlah halangan untuk bekerja tanpa meninggalkan kewajiban kepada sang Pencipta, - "sholat". Bahkan ketika tidak ke kebun, dua sepasang suami istri tersebut tidak tenang, mereka sangat bahagia ke kebun dan bekerja, apakah memetik buah kopi, memangkas rumput, dan lain sebagainya. Benar apa kata Karl Marx bahwa keharmonisan dan kebahagian tertinggi ada pada kerja keras, dan sedikit banyak ada pada mereka. Sampai saat inipun, ketika mereka sudah semakin menua, mereka tidak lekang untuk selalu ke kebun.
Itulah mereka, selain cantik dan gagah serta memiliki senyuman manis yang tidak kalah manis dengan si penulis (anaknya), mereka tidak kenal pantang menyerah untuk mendorong dan mendukung anak-anaknya untuk sukses. Apalagi mereka selalu mengutamakan kebutuhan pendidikan anak-anaknya, tidak pernah mengatakan tidak ketika itu adalah kebutuhan sekolah. Kepercayaanya, pendidikan adalah hal yang paling utama demi membawa keluarga lepas landas dari keterburukan ekonomi dan pengetahuan. Walaupun ibu tidak sampai selesai SMA karena faktor ekonomi, kepercayaan itu melekat pada dirinya.
Dua pasangan serasi nan luar biasa diatas adalah ibu dan bapak si penulis. I pround of them, long life  and I love them very much.
   

0 komentar:

Post a Comment

 

My Profil

My photo
Batu Bolong, Makassar/Sulsel, Indonesia
Someone on the photo is independent writer in this blog namely Muhammad Jusrianto from Latimojong, Enrekang, South Celebes, Indonesia. Latimojong is one of the deepest areas which has the highest mountain in Celebes island, named as Latimojong Mountain. Although spending time and growing in underdeveloped area, he has a great spirit to attend higher education. He spent four years, from 2010 to 2014, to finish his study International Relations Department of University of Muhammadiyah Malang in Malang, East Java. After completing an undergraduate degree, he decided to closely keep in touch with English for preparing himself to attend master degree abroad, whereas running the responsibilities in The Institution of Tourism and Environmentalist at HMI. Now he is a IELTS tutor in Insancita Bangsa Foundation and a director of Information and Communication in LEPPAMI HMI.

Popular Posts

Musik

Video